Pendidikan

Sikap Pantang Menyerah


 
Benarkah mental orang Indonesia itu mudah menyerah? Sekali gagal langsung menyerah, tidak ada gairah untuk bangkit dan berjuang kembali. Dalam kamus orang sukses, tidak ada istilah pesimis, yang ada hanya mental pantang menyerah. Pandangan tentang orang Indonesia yang mudah menyerah tidak sepenuhnya benar. Karakter asli orang Indonesia itu justru pantang menyerah, bermental baja, dan memiliki semangat berapi-api. Nenek moyang nusantara berlayar mengarungi samudra, menaklukkan dunia.

Nenek moyang kita juga terkenal ulet, sebagai bangsa agraris mampu menghasilkan aneka tanaman yang tidak ditemukan di belahan dunia manapun. Pantang menyerah, ulet, berdaya juang tinggi adalah karakter orang-orang nusantara. Meski berabad-abad lamanya, kita tidak pernah merasa letih sedikit pun untuk lepas dari belengu kolonialisme.
Kita berani bangkit merebut kemerdekaan. Bukan mengemis kemerdekaan dari bangsa manapun. Bekerja keras mengisi kemerdekaan, membangun ekonomi, dan membangun infrastruktur negara baru. Mendirikan sekolah-sekolah, sarana kesehatan, pabrik dan semuanya dengan tanpa putus asa.

Tetapi tiba-tiba generasi sekarang lebih dikenal sebagai generasi lembek. Generasi yang mudah menyerah. Tidak punya daya juang, tidak punya semangat yang membara. Ada banyak alasan mengapa orang Indonesia sekarang lebih mudah menyerah daripada bertahan. Jawabannya karena menyerah itu cara yang paling mudah saat seseorang merasa tidak mampu mengahadapi berbagai kesulitan.

Tentu kita pernah mendengar istilah winner never quit and quitter never win. Dari istilah tersebut, dapat dimaknai bahwa seorang pemenang memiliki sikap mental yang tidak mudah menyerah sekalipun keadaan dan situasi yang dihadapinya begitu sulit. Mereka menyadari sepenuhnya bahwa kemenangan bukan berarti tidak adanya kesulitan, melainkan bagaimana mengalahkan kesulitan-kesulitan tersebut. Orang yang kalah seringkali sudah menyerah dulu saat menghadapi tantangan, bahkan ada juga yang menyerah sebelum ia mengalami kegagalan karena ia tidak pernah berani mencobanya.

Mentalitas seorang pemenang adalah mengakhiri apa yang sudah ia mulai dan pantang untuk berhenti di tengah jalan. Contoh yang paling popular adalah Joanne Kathleen Rowling. Nama tersebut sangat tidak asing, terutama bagi penggemar buku Harry Potter. Dari masa kecilnya, Rowling sudah memiliki tradisi menulis. Bahkan diusianya yang masih 6 tahun, ia sudah mengarang sebuah cerita berjudul Rabbit. Rowling kecil juga sudah percaya diri memamerkan karya-karyanya yang sederhana kepada teman-teman dan orangtuanya sendiri.

Keberanian tersebut pada akhirnya menjadi tradisi yang terus menerus tumbuh hingga ia dewasa. Daya imajinasi yang tinggi itu pula yang kemudian melambungkan namanya di dunia. Akan tetapi dalam perjalanan hidupnya, Rowling tidak henti-hentinya menghadapi banyak masalah. Kondisi ekonominya masih miskin, hingga dia layak mendapatkan santunan dari pemerintah Inggris. Hal itu masih ia alami ketika Rowling menulis seri Harry Potter yang pertama

Situasi sulit tersebut semakin bertambah setelah dia bercerai. Dalam kondisi yang serba sulit itu justru semakin memacu dirinya untuk segera menulis dan menuntaskan kisah penyihir cilik bernama Harry Potter yang idenya ia dapat saat sedang berada dalam sebuah kereta api. Pada tahun 1995, dengan susah payah, karena tidak memiliki uang untuk memfotocopy naskahnya, Rowling terpaksa menyalin naskahnya itu dengan mengetik ulang menggunakan sebuah mesin ketik manual.

Naskah tersebut akhirnya tuntas dengan perjuangan susah payah dan berdarah-darah. Namun apa yang terjadi dari perjuangan berat tersebut? Naskahnya tidak lantas langsung diterima, tetapi justru penolakan demi penolakan dari berbagai penerbit harus ia alami.

Halangan pertama adalah karena semula ia mengirim naskah dengan memakai nama aslinya, Joanne Rowling. Sedang pandangan publik ketika itu masih meremehkan penulis wanita. Akhirnya ia menyiasati dengan menyamarkan namanya menjadi JK Rowling. Memakai dua huruf konsonan dengan harapan ia akan sama sukses dengan penulis cerita anak favoritnya CS Lewis.

Perlahan demi perlahan, akhirnya keberhasilan pun tiba saatnya. Harry Potter menjadi buku cerita yang meledak di pasaran. Semua itu tentu saja adalah hasil dari sikap pantang menyerah dan kerja keras yang luar biasa. Tidak ada kesuksesan yang dibayar dengan harga murah.

Semoga secuil kisah ini membuat hari anda menjadi hari yang menyenangkan, dan diri anda tangguh dalam setiap masalah hidup yang terjadi.

Sumber: Pendidikan Karakter.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar